Pages

Rabu, 16 November 2011

Jika Aku Menjadi Presiden...


Banyak kaum miskin terlantar di jalan, meminta - minta demi sesuap nasi. Padahal mereka hidup di negara agraris penghasil beras terbesar se-Asia dan negara dengan sumber daya alam yang melimpah. Sayangnya negara ini yang belum mampu mengolah semua kekayaan itu. Ironis. Harga sembako yang ada di pasar juga sangat labil tergantung pada kebijakan pemerintah memicu terjadinya krisis pangan. Bayangkan imbasnya pada masyarakat kecil. Haruskah mereka kelaparan terus – menerus ?
Jika aku menjadi presiden masalah pangan akan ku selesaikan, sembako murah untuk rakyat, dan Indonesia akan menjadi eksportir pangan pokok terbesar di dunia.
Kemiskinan sudah menjadi ciri utama negeri ini. Banyak masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin terlihat amat jelas. Salah siapakah sehingga keadaan kita seperti ini? Akan terjadi silang pendapat apabila pertanyaan tersebut dilontarkan. Yang miskin akan menyalahkan pemerintah karena tindakan sewenang – wenang mereka dan menindas kaum tak berdaya. Yang kaya akan menyalahkan yang miskin karena kemalasan mereka berusaha memperbaiki diri. Entah apapun itu, tak akan pernah memperbaiki kondisi sosial masyarakat kita sekarang ini.
Jika aku menjadi presiden akan ku ajak seluruh lapisan masyarakat untuk bahu – membahu mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan.
Pendidikan itu meningkatkan level manusia. Tentu saja, karena dengan pengetahuan kita dapat menjalankan kehidupan dengan baik. Oleh karena itulah kita dimasukkan ke sekolah oleh orang tua kita semenjak dini. Untuk menuntut ilmu dan menjadi manusia yang berpendidikan agar berguna bagi nusa dan bangsa. Tapi sistem pendidikan di Indonesia rupanya masih terombang – ambing dengan kurikulum yang akan digunakan. Hampir setiap tahun kurikulum yang digunakan dirubah. Tak akan ada masalah jika kita berada dekat dengan wilayah pusat, tapi bagaimana dengan mereka yang berada di pelosok wilayah ? Tidak semua kurikulum tersebut dapat diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan ketika mereka mulai beradaptasi dengan kurikulum baru, pemerintah juga sibuk merancang kurikulum baru pula. Belum lagi masalah fasilitas, seperti buku dan gedung sekolah yang belum tentu memenuhi standar.
Jika aku menjadi presiden sistem pendidikan akan diperbaiki, akan ada program 1000.000 bedah sekolah di berbagai pelosok wilayah Indonesia.   
Setiap warga Indonesia wajib memperoleh pendidikan agar mendapatkan kehidupan yang layak dan dapat memajukan bangsa Indonesia. Namun realita justru berbalik 180 derajat. Pendidikan seperti barang mewah bagi mereka yang miskin. Seandainya mereka dapat menuntaskan pendidikan belum ada jaminan kehidupan yang layak bagi kehidupan mereka selanjutnya. Ya, pengangguran masih menjadi permasalahan utama negeri ini. Kesenjangan sosial dan kurangnya kesadaran diri memperparah keadaan ini. Sulit mendapatkan pekerjaan bagi mereka yang berusaha dari bawah. Namun, yang berpendidikan juga belum pasti akan mendapatkan pekerjaan. Lapangan perkerjaan yang sempit tidak dapat mengimbangi banyaknya ‘pemburu pekerja’ yang ada.
Jika aku menjadi presiden akan ku buat gerakan sadar kewirausahaan untuk masyarakat dan menjamin modal untuk mereka untuk memulai peluang itu.
Sejak terlahir ke dunia, pada hakikatnya setiap manusia mempunyai hak yang dapat diganggu gugat. Manusia mempunyai hak asasi dalam kehidupannya yang harus dihargai satu sama lain agar terwujudlah sebuah keadilan. Keadilan itu membela yang benar dan menghukum yang salah. Tapi tak pernah mudah negeri ini mewujudkan prinsip tersebut. Uang seakan membutakan negeri ini dari keadilan yang harus ditegakkan. Jadilah yang tertindas semakin tertindas dan yang berkuasa semakin menancapkan keabsolutannya. Padahal seharusnya hukum mencegah keadaan itu terjadi, bukankah para wakil rakyat sudah mengadakan rapat yang menghabiskan banyak dana untuk membuat hukum bagi negeri ini ? Ataukah mereka hanya bingung merencanakan konsep tanpa pernah melaksanakan implementasinya ? Sebuah kesalahan yang akan berlanjut seperti lingkaran apabila tidak segera diputus.
Jika aku menjadi presiden akan ku adakan revolusi di bidang hukum untuk mencapai keadilan bagi rakyatku. Hukum harus buta dari uang. Yang benar, yang menang.
Masalah Indonesia yang sudah diakui oleh dunia internasional adalah korupsi. Korupsi hanya dapat dilakukan oleh orang yang berkuasa padahal kekuasaan mereka berasal dari kepercayaan rakyat. Korupsi itu seperti menghisap darah rakyat.  Jika berlangsung terus – menerus para koruptor akan membunuh semua rakyat kita.
Jika aku menjadi presiden para koruptor akan di hukum penjara seumur hidup dengan denda mengembalikan semua uang negara. 

Minggu, 13 November 2011

Alangkah Lucunya Negeri Ini

Banyak orang beranggapan pendidikan tinggi akan membawa pekerjaan yang layak. Padahal, realita yang terjadi di lapangan menunjukkan pendidikan tidak lagi menjanjikan masa depan manis.
 

Benarkah pendidikan akan menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun  Anda mungkin akan memeras otak untuk mendapatkan jawabannya. Tentu saja mereka yang mempunyai pengetahuan yang luas akan lebih berkualitas jika dibandingkan dengan mereka yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan. Sarjana itu penuh potensi. Namun asumsi ini tidak dapat menjelaskan fenomena “Sarjana Pengangguran” yang berkeliaran di luar sana. Jika orang yang berpendidikan saja tetap menjadi pengangguran bagaimana dengan kondisi mereka yang bukan sarjana, lebih buruk? Masih penting kah pendidikan?
Kondisi ini berhasil digambarkan secara apik oleh film garapan sutradara Deddy Mizwar, Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Dari judulnya saja, terlihat film ini ingin menyentil kita untuk berempati pada keadaan negeri sendiri.  Kondisi masyarakat yang terdesak oleh kemiskinan menjadi alasan tingginya tingkat kriminalitas yang terjadi. Kekerasan dan eksploitasi tenaga anak - anak terlantar  juga seakan sudah menjadi budaya. Lihat saja di lingkungan sekitar kita bagaimana anak – anak menjadi pengemis bahkan ada yang membawa bayi, entah bayi siapa itu. Padahal undang – undang negera telah menjamin akan memelihara mereka. Sebuah paradoks yang tak aneh lagi. Kepercayaan antara  Pemimpin negeri dan rakyatnya sudah pudar. Tak salah jika terjadi tuduh – menuduh siapa yang salah atas kondisi yang berlangsung saat ini. Pemerintah menganggap rakyatnya susah diatur dan rakyat berpikir  pemerintah hanya men’copet’ uang mereka saja. Seperti celetukkan para pencopet cilik di film ini ketika berada di Gedung MPR, “Mereka nyopetnya gimana ya?”.
                Adegan awal film ini dibuka oleh Muluk (Reza Rahadian) yang  mengamati sekelompok anak  kecil yang sedang mencopet di tengah keramaian pasar. Muluk yang merupakan Sarjana Manajemen, hampir dua tahun belum mendapatkan pekerjaan. Padahal untuk melamar Rahma (Sonia), Muluk  harus memiliki  penghasilan. Ada juga tokoh  pengangguran berpendidikan lainnya seperti Samsul (Asrul Dahlan), sarjana pendidikan yang kerjanya main gaple di pos ronda dan Pipit (Ratu T. Bravani) sebagai sarjana D3 yang kerjanya mengadu untung di program kuis TV. Dalam usahanya  mendapatkan pekerjaan. Takdir mempertemukan  Muluk dengan  pencopet cilik  bernama Komet (Angga). Komet merupakan salah satu anak buah Jarot (Tio Pakusadewo). Cerita terus mengalir hingga Muluk dibantu Samsul dan Pipit menjadi “Manager Keuangan” kelompok tersebut. Muluk mengusahakan mereka mendapatkan pendidikan dari hasil jerih payah mereka. Namun, di sisi lain konflik mulai timbul saat Muluk berbohong tentang pekerjaannya. Kepada ayahnya, Pak Makbul (Deddy Mizwar), Muluk hanya menyatakan dirinya telah bekerja di bagian Sumber Daya Manusia. Dengan bangga, Pak Makbul menyampaikan berita tersebut ke Haji Sarbini (Jaja Mihardja), calon besannya. Pak Makbul, Haji Sarbini (calon mertua Muluk), juga Haji Rahmat (Slamet Rahardjo), ayah Pipit, senang melihat anak-anak mereka sudah bekerja. 
Film Alangkah Lucunya (negeri ini) sepertinya tak main – main saat memasang aktor ternama seperti Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo, serta Reza Rahadian untuk menghidupkan karakter tokoh dalam cerita. Sebagai tokoh utama contohnya, Reza Rahadian berhasil memerankan tokoh Muluk yang revolusioner. Reza Rahadian sendiri merupakan peraih Piala Citra sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik di film Perempuan Berkalung Sorban dan merupakan aktor yang layak diperhitungkan dalam ranah hiburan tanah air. Deddy Mizwar , sang sutradara, sudah tak tak dapat diragukan lagi kredibilitasnya. Ia telah banyak menyutradarai film yang mengangkat kondisi rakyat tanah air, seperti ‘Ketika’(2004),’ Naga Bonar jadi 2’(2007), dan ‘Kentut’(2011). Tak terhitung torehan nama Deddy Mizwar di Festival Film Indonesia lewat karya – karyanya tersebut. Belum lagi peran pendukung lainnya yang sudah riwa – riwi panggung hiburan Indonesia serta sebagian besar sudah menggenggam piala citra di tangannya.
Dialog segar hasil besutan penulis Musfar Yasin dalam film yang diproduksi tahun 2010  ini, menyuguhkan kritikan berbalut humor. Lihat saja bagaimana ungkapan “Pendidikan itu penting. Karena berpendidikan, maka kita tahu bahwa pendidikan itu tidak penting!” benar – benar menggelitik perut namun tetap ada kritikan implisit di dalamnya. Skenario yang dibawakan dapat memperkuat suasana kemiskinan dan pengangguran yang menjadi permasalahan utama. Hampir semua isu dari berbagai aspek kehidupan disoroti disini.
Begitu dalamnya pesan yang ingin disampaikan oleh film ini dikemas secara rapi dan menarik. Penggarapannya yang melibatkan orang – orang berbakat, mulai dari aktor, penulis skenario, hingga sutradaranya menjadi sebuah nilai lebih untuk menonton film ini. Pembawaan film yang ringan, humor segar, serta moral mendalam dapat Anda rasakan setelah menyaksikan film ini.



Selasa, 08 November 2011

Menulis (yang) Populer

Menulis itu merupakan proses menuangkan pemikiran kita ke dalam bentuk kata – kata. Kebanyakan orang mengatakan mereka tidak dapat menulis dengan baik karena mereka tidak dapat menuangkan apa yang ada di dalam pemikiran mereka. Sebenarnya kemampuan seseorang untuk menulis dipengaruhi oleh banyak aktivitas lainnya, salah satunya adalah membaca. Dengan membaca, berarti kita telah meng-Upgrade pengetahuan kita. Kemudian pengetahuan tersebut sangat berpengaruh pada pembentukan mindset kita yang akan kita tuangkan saat kita menulis.

Dalam dunia jurnalistik ada sebuah istilah “Menulis Populer” yang merupakan standar ketika ingin menulis sederhana. Apa bedanya menulis populer dengan tulis – menulis lain? Perbedaaan yang mendasar adalah isi tulisan yang disuguhkan kepada pembacanya.  Jika tulisan ilmiah lebih berorientasi kepada pembaca yang berpendidikan, dalam menulis populer bacaan harus dapat dimengerti oleh semua kalangan termasuk kalangan awam.
Isi bacaannya lebih mengedepankan pemahaman dari pembaca dengan cara menggunakan bahasa yang populer dan sesuai dengan kondisi pengetahuan kebanyakan orang. Dengan kata lain menulis untuk orang “awam”. Tulisan populer ini dapat berupa data – data, istilah, dan bahasa yang biasa digunakan oleh orang pada umumnya. Siapapun orangnya ketika membaca tulisan jenis ini akan langsung memahami maksud penulisannya. Berikut adalah hal – hal yang perlu diperhatikan ketika menulis populer :
1.    Sederhana
Dalam menulis populer penulisan yang sederhana harus menjadi fokus utama. Beberapa survei telah membuktikan bahwa pembaca hanya dapat berkonsentrasi pada tulisan baku yang maksimal terdiri dari 15 kata. Jika sudah melebihi kapasitas tersebut maka dapat dipastikan bahwa pembaca telah kehilangan fokus pada inti tulisan. Kalimat baku sendiri dianjurkan berpola S P O K agar mudah untuk dimengeti. Dengan kata lain, jangan mencoba untuk menyiksa pembaca dengan gaya tulisan yang berat. Selain dari segi isi tulisan, penulis juga harus memperhatikan penggunaan huruf kapital agar tidak menyiksa mata.
2.    Melakukan riset kecil
Walaupun tulisan yang berasal dari riset merupakan tulisan ilmiah, bukan berarti dalam menulis populer tidak memerlukan riset sama sekali. Pada dasarnya setiap proses penulisan memerlukan penelitian kecil untuk mendapatkan pengetahuan tentang apa yang akan dituangkan dalam tulisan. Sehingga pembaca akan mendapatkan sesuatu yang baru setelah selesai membaca tulisan kita.
3.    Tetapkan orientasi pembaca
Dengan menetapkan ruang lingkup yang akan dibahas akan mempermudah bagi penulis untuk berempati pada posisi pembaca. Sehingga tulisan yang dibuat akan lebih sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pembaca.
4.    Gunakan pola yang sesuai
Pola penulisan paragraf sebaiknya didahului dengan sebuah masalah kemudian diakhiri dengan solusi atau dengan kata lain menggunakan pola sebab – akibat. Sehingga dapat membawa pemahaman yang mendalam pada pembaca karena pola tersebut mudah untuk ditangkap.
5.    Hindari istilah teknis, kata asing, akronim, dan jargon
Istilah teknis adalah istilah yang hanya digunakan dalam suatu ilmu disiplin tertentu sedangkan jargon juga hanya akan berlaku dalam lingkungan tertentu. Sehingga tidak dapat dipahami oleh masyarakat luas. Di sisi lain, penggunaan hal tersebut dapat membiaskan subtansi isi dari tulisan yang dibuat.
6.    Spesifik dan konkret
Jangan memakai kata umum yang tidak jelas artinya sehingga menimbulkan pertanyaan baru. Sebuah kalimat dapat dijadikan lebih spesifik dengan meniadakan kata sifat di dalamnya.
7.    Detil yang relevan
Terlalu banyak detil yang digunakan dapat mengganggu pemahaman dari pembaca.
8.    Analogi sederhana
Konsep dan angka yang abstrak dapat disederhanakan ke dalam kata – kata yang mudah untuk dicerna.